INSTAGRAM

Rabu, 02 Desember 2009

NAMRU, militerisme asing berkedok kerjasama KESEHATAN

Namru-2 (Naval Medical Research Unit No. 2)adalah sebuah laboratorium penelitian biomedis yang meneliti penyakit menular, demi kepentingan bersama antara Amerika Serikat, Departemen Kesehatan RI, dan komunitas kesehatan umum internasional.
Didirikan tahun 1970 sesuai permintaan Departemen Kesehatan RI dan berakhir pada bulan Desember 2005.

Kegiatan penelitian bersama ini menitikberatkan pada malaria, penyakit akibat virus seperti demam berdarah, infeksi usus yang mengakibatkan diare dan penyakit menular lainnya termasuk flu burung.
Penelitian NAMRU-2 hanya berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis yang terjadi secara alamiah.

Namun faktanya ternyata sampel-sampel virus yang diberikan oleh negara2 penderita tersebut tidak pernah mendapatkan hasilnya berupa vaksin pencegahan, yang sangat dibutuhkan oleh negara2 yang dijangkiti virus tersebut.
Justru vaksin tersebut beredar dan diperjualbelikan di pasaran farmasi dunia, dengan harga yang sangat mahal sekali terlebih kepada daerah pandemi.

NAMRU yang dicurigai sebagai inteligen dan milik Angkatan Laut, mulai terbongkar rahasianya oleh seorang Pejuang Wanita abad 21, Siti Fadilah Supari, yang tidak melihat manfaat apa2 adanya NAMRU di Indonesia.
Terlebih lagi saat WHO juga mewajibkan negara2 yang terserang virus flu burung untuk diteliti.
Dengan tegas dan tanpa basa basi di hadapan dunia, sang Mentri yang mempunyai jiwa nasionalisme dan patriot yang tinggi kemudian berpidato di corong dunia, berniat mereformasi WHO (World Health Organization) yang menjual sampel virus ke AS serta mengecam farmasi AS dalam pembuatan senjata biologi.


Demikian juga pakar intelijen Laksda Purn Subardo mengakui,NAMRU memang menjalankan misi rahasia yang kebal hukum dan tak tersentuh media.
Dia juga mengatakan inteligen negara Indonesia saat ini, sangat lemah.
dari 28 kedubes Indonesia di luar negri 16 diantaranya telah disadap.
Pakar intelijen lainnya juga mengatakan, banyak sekali informasi2 rahasia negara telah diperjual belikan kepada pihak asing oleh oknum, ataupun lewat barter informasi .

Akhirnya, walau melalui perdebatan yang panjang, NAMRU ditutup 16 Oktober 2009, dan kesepakatan baru dibuat, sampel yang diberikan oleh negara yang menyerahkan virus untuk diteliti WHO, harus bisa mendapatkan kembali hasilnya dalam bentuk vaksin.

Endang Rahayu Setyaningsih sebagai orang yang dekat dengan NAMRU yang pernah ditegur dan diskors oleh Ibu Siti Fadillah, malah diangkat menjadi Mentri pengganti, dipertanyakan DPR keberadaannya.
Kita semua juga wajib mengawal sepak terjangnya, walau dokter yang satu ini, karirnya tidak menonjol, kesehariannya lebih berteman dengan laboratorium sebagai peneliti, namun dia harus belajar cepat bagaimana dunia internasional sedang mencari kekurangan kita dibalik seribu kelebihan yang kita punyai.
Semoga saja dia tidak melupakan rakyat yang menanti aksi yang pasti seperti Ibu Fadilah Supari.

Hmmh...banyak pelajaran yang dapat kita ambil disini.
Kita harus waspada, bahwa ada Sejuta celah yang bisa dimasuki oleh negara asing untuk memanfaatkan kebodohan dan kelemahan kita, mulai dari idiologi, politik, ekonomi,sosial, seni, budaya, pendidikan dan kesehatan.
Seyogyanyalah kita kembali menumbuhkan rasa cinta tanah air dan meningkatkan rasa persatuan ditengah kebhinnekaan.

Etika Profesi seorang Pelayan Kesehatan seperti Dokter dan Perawat, harus kembali mengingat sumpah mereka...dengan melayani pasien sepenuh hati, sebab siapapun yang bernyawa berhak mendapatkan pelayanan dan kesehatan prima tanpa menomorsatukan materi.
Bagi para wisuda dan kita semua hendaknya merenungkan kembali, makna lagu Bagimu Negri...

Padamu negeri... kami berjanji...
Padamu negeri... kami berbakti...
Padamu negeri... kami mengabdi...

"Bagimu negeri... jiwa raga kami..."

3 komentar:

Gampito, SE.,M.Si. mengatakan...

iya buk Linda
Hmmh...banyak pelajaran yang dapat kita ambil disini.
Kita harus waspada, bahwa ada Sejuta celah yang bisa dimasuki oleh negara asing untuk memanfaatkan kebodohan dan kelemahan kita, mulai dari idiologi, politik, ekonomi,sosial, seni, budaya, pendidikan dan kesehatan.
Seyogyanyalah kita kembali menumbuhkan rasa cinta tanah air dan meningkatkan rasa persatuan ditengah kebhinnekaan.

Aribicara mengatakan...

Kadang setiap indonesia kerjasama dengan negara luar negeri, satu yg saya takutkan, Indonesia hanya dibodohi dalam setiap kerjasama tersebut, termasuk dalam kerjasama ini ?

Rusalva mengatakan...

benar bu'linda......saya juga mengkhawatirkan negara kita ini,sementara pemimpin-pemimpin kita disana kejar-kejaran dalam korupsi, bukan memikirkan supaya negara kita ini tidak lagi dibodohi oleh negara-negara asing dalam segala hal.(By:Nova Febrianti (AKTAN) NPM.0810.076.510.006)